-->

Identifikasi hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya


Sumber : www.123rf.com
Berdasarkan perjalanan dan lahirnya pertemuan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Muncul anggapan terhadap masing-masing individu terhadap individu lainnya. Anggapan atau prasangka ini bergantung dari latar belakang masing-masing individu[1]. Komunikasi antarbudaya pada praktiknya mencoba menghubungkan orang-orang atau grup-grup (dua atau lebih) dengan latar belakang berbeda untuk bisa menyelaraskan atau menyamakan makna dari interaksi antarbudaya mereka[2]. Akan tetapi, usaha untuk bisa menyamakan makna ini bukan perkara mudah, juga menjadi hal penting untuk dikaji. Sebelum bisa menyamakan makna, kita akan berhadapan dengan persepsi yang ada di masing-masing benak individu.

Persepsi di atas, dapat kita terjemahkan sebagai sebuah pandangan atau paradigm terhadap orang lain (asing). Dari persepsi inilah kemudian hadir hambatan-hambatan (barriers) pada hubungan atau komunikasi antarbudaya. Neulip menyatakan ada dua hal utama terkait hambatan komunikasi antarbudaya, yakni; etnosentrisme dan kegelisahan/kekhawatiran[3].

Etnosentrisme menurut KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah sikap atau pandangan yang berangkat dari masyarakat dan kebudayaan sendiri kepada kebudayaana tau masyarakat lain yang biasanya disertai sikap atau pandangan yang meremehkan. Dengan kata lain, etnosentrisme dapat diterjemahkan sebagai anggapan bahwa kelompok budaya yang satu lebih unggul dari pada kelompok budaya yang lain. Mengingat hal ini, tidak salah jika komunikasi antarbudaya berangkat dari paradigm hubungan sinergis antarbudaya dari seorang antropologis, Edward T. Hall. Etnosentrisme ini dapat diukur atau dipetakan tingkatannya atau skalanya yakni tinggi dan rendahnya etnosentrisme[4]. Tingkatan ini juga yang akan mempengaruhi kemampuan dan kompetensi komunikasi antarbudaya seseorang. Orang dengan tingkat etnosentristik yang tinggi akkan menghadapi hambatan komunikasi yang sangat luas terhadap orang yang berlatar belakang budaya berbeda. Secara umum mereka akan merasa “curiga, menghindar, dan memusuhi” terhadap mereka yang berbeda. Khususnya bagi individu yang memiliki perbedaan norma sosial budaya dari kelompok budayanya[5]. Sebaliknya, mereka yang memiliki tingkat etnosentrstik rendah akan merasa “penasaran, tertarik, dan terinspirasi” oleh interaksi antarbudayanyya yang akan menghasilkan nilai lebih dalam perkembangan kompetensi komunikasi atau interaksi antarbudaya mereka[6].

Selanjutnya, level, tingkat, atau skala etnosentrisme ini berhubungan erat dengan ketakutan untuk berkomunikasi antarbudaya. Neulip dan McCroskey mendefinisikan ketakutan ini sebagai “ketakutan atau kecemasan dengan mengantisipasi untuk berhubungan dengan orang berbeda budaya[7]. Ketakutan berkomunikasi inilah yang akan menjauhkan orang untuk mengadakan relasi atau hubungan kepada orang lain. Menghindari orang lain ini bisa saja karena takut orang lain tak bisa mengerti atau kita yang tak bisa mengerti orang lain.

Untuk hambatan yang kedua yakni kegelisahan/kecemasan(anxiety). Hambatan yang kedua ini muncul dari kontribusi kedua sikap di atas(etnosentrisme dan ketakutan). Selain itu juga disebabkan oleh penghalang komunikasi seperti kemampuan berbahasa, pengalaman kebudayaan,  perbedaan bahasa, ekspresi wajah, dan gaya komunikasi(verbal dan non-verbal)[8].  Dari kecemasan ini hadir dari masing-masing kelompok (in group dan out group) atau individu untuk saling merasa tidak sabar, frustasi, dan curiga berkomunikasi dengan orang lain. Dan inilah yang juga turut menyumbang meningkatnya kegelisahan/kecemasan tadi.

Lantas, apa yang akan terjadi jika tingkat etnosentrisme, kegelisahan/kecemasan, dan ketakutan tadi tinggi? Dapat kita katakan, sebuah penghindaran terhadap situasi yang diprediksi buruk akan terjadi. Yang berimplikasi pada semakin lebarnya jurang pastisipasi individu dalam susunan masyarakat yang heterogen dan perkembangan individu pada kompetensi komunikasi dan interaksi antarbudayanya.




[1] Spencer-Rodgers & McGovern, Attitudes toward the culturally different: The role of intercultural communication barriers, affective responses, consensual stereotypes, and perceived threat (International Journal of Intercultural Relations, V. 26, 2002),  hlm. 625.
[2] Stella Ting-Toomey, Communicating across cultures,( New York; London: The Guilford Press,1999) hlm. 310.
[3] Neuliep, The relationship among intercultural communication apprehension, ethnocentrism, uncertainty reduction, and communication satisfaction during initial intercultural interaction: An extension of anxiety and uncertainty management (AUM) theory. (Journal of Intercultural Communication Research, V. 41), hlm. 1-16.
[4] Ibid,.
[5] Spencer-Rogers & McGovern, Attitudes toward the culturally different: The role of intercultural communication barriers, affective responses, consensual stereotypes, and perceived threat (International Journal of Intercultural Relations, V. 26, 2002), hlm. 614.
[6] Ibid,.
[7] Neuliep and McCroskey, (1997) hlm. 148
[8] Spencer-Rogers & McGovern, Attitudes toward the culturally different: The role of intercultural communication barriers, affective responses, consensual stereotypes, and perceived threat (International Journal of Intercultural Relations, V. 26, 2002), hlm. 609-631.





Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Momovdesk


0 komentar:

Post a Comment