Identifikasi hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya
![]() |
| Sumber : www.123rf.com |
Persepsi
di atas, dapat kita terjemahkan sebagai sebuah pandangan atau paradigm terhadap
orang lain (asing). Dari persepsi inilah kemudian hadir hambatan-hambatan
(barriers) pada hubungan atau komunikasi antarbudaya. Neulip menyatakan ada dua
hal utama terkait hambatan komunikasi antarbudaya, yakni; etnosentrisme dan
kegelisahan/kekhawatiran[3].
Etnosentrisme
menurut KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah sikap atau pandangan yang
berangkat dari masyarakat dan kebudayaan sendiri kepada kebudayaana tau
masyarakat lain yang biasanya disertai sikap atau pandangan yang meremehkan. Dengan
kata lain, etnosentrisme dapat diterjemahkan sebagai anggapan bahwa kelompok budaya
yang satu lebih unggul dari pada kelompok budaya yang lain. Mengingat hal ini,
tidak salah jika komunikasi antarbudaya berangkat dari paradigm hubungan
sinergis antarbudaya dari seorang antropologis, Edward T. Hall. Etnosentrisme ini
dapat diukur atau dipetakan tingkatannya atau skalanya yakni tinggi dan
rendahnya etnosentrisme[4]. Tingkatan
ini juga yang akan mempengaruhi kemampuan dan kompetensi komunikasi antarbudaya
seseorang. Orang dengan tingkat etnosentristik yang tinggi akkan menghadapi
hambatan komunikasi yang sangat luas terhadap orang yang berlatar belakang
budaya berbeda. Secara umum mereka akan merasa “curiga, menghindar, dan
memusuhi” terhadap mereka yang berbeda. Khususnya bagi individu yang memiliki
perbedaan norma sosial budaya dari kelompok budayanya[5]. Sebaliknya,
mereka yang memiliki tingkat etnosentrstik rendah akan merasa “penasaran,
tertarik, dan terinspirasi” oleh interaksi antarbudayanyya yang akan
menghasilkan nilai lebih dalam perkembangan kompetensi komunikasi atau
interaksi antarbudaya mereka[6].
Selanjutnya,
level, tingkat, atau skala etnosentrisme ini berhubungan erat dengan ketakutan
untuk berkomunikasi antarbudaya. Neulip dan McCroskey mendefinisikan ketakutan
ini sebagai “ketakutan atau kecemasan dengan mengantisipasi untuk berhubungan
dengan orang berbeda budaya[7]. Ketakutan
berkomunikasi inilah yang akan menjauhkan orang untuk mengadakan relasi atau
hubungan kepada orang lain. Menghindari orang lain ini bisa saja karena takut
orang lain tak bisa mengerti atau kita yang tak bisa mengerti orang lain.
Untuk
hambatan yang kedua yakni kegelisahan/kecemasan(anxiety). Hambatan yang kedua
ini muncul dari kontribusi kedua sikap di atas(etnosentrisme dan ketakutan). Selain
itu juga disebabkan oleh penghalang komunikasi seperti kemampuan berbahasa,
pengalaman kebudayaan, perbedaan bahasa,
ekspresi wajah, dan gaya komunikasi(verbal dan non-verbal)[8]. Dari kecemasan ini hadir dari masing-masing
kelompok (in group dan out group) atau individu untuk saling merasa tidak
sabar, frustasi, dan curiga berkomunikasi dengan orang lain. Dan inilah yang
juga turut menyumbang meningkatnya kegelisahan/kecemasan tadi.
Lantas,
apa yang akan terjadi jika tingkat etnosentrisme, kegelisahan/kecemasan, dan
ketakutan tadi tinggi? Dapat kita katakan, sebuah penghindaran terhadap situasi
yang diprediksi buruk akan terjadi. Yang berimplikasi pada semakin lebarnya
jurang pastisipasi individu dalam susunan masyarakat yang heterogen dan
perkembangan individu pada kompetensi komunikasi dan interaksi antarbudayanya.
[1] Spencer-Rodgers & McGovern, Attitudes toward the culturally different:
The role of intercultural communication barriers, affective responses,
consensual stereotypes, and perceived threat (International Journal of
Intercultural Relations, V. 26, 2002), hlm. 625.
[2] Stella Ting-Toomey, Communicating across cultures,( New York; London: The Guilford
Press,1999) hlm. 310.
[3] Neuliep, The relationship among intercultural communication apprehension,
ethnocentrism, uncertainty reduction, and communication satisfaction during
initial intercultural interaction: An extension of anxiety and uncertainty
management (AUM) theory. (Journal of Intercultural Communication Research, V.
41), hlm. 1-16.
[4] Ibid,.
[5] Spencer-Rogers & McGovern, Attitudes toward the culturally different:
The role of intercultural communication barriers, affective responses,
consensual stereotypes, and perceived threat (International Journal of
Intercultural Relations, V. 26, 2002), hlm. 614.
[6] Ibid,.
[7] Neuliep and McCroskey, (1997) hlm.
148
[8] Spencer-Rogers & McGovern, Attitudes toward the culturally different:
The role of intercultural communication barriers, affective responses,
consensual stereotypes, and perceived threat (International Journal of
Intercultural Relations, V. 26, 2002), hlm. 609-631.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan
klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Momovdesk

0 komentar:
Post a Comment