-->

Teori-teori Komunikasi Persuasif


Teori-teori Komunikasi Persuasif
image by Self Concept
     1.      Teori Penilaian Sosial
Teori ini dimunculkan oleh Muzafer Sherif, Carolyn Sherif, Carl Hovlandpadatahun 1961.[1] Teori ini menyatakan bahwa pesan yang disampaikan seseorang akan bisa dinilai untuk kemudian diterima atau ditolak untuk mengamini atau tidak pesan tersebut. Hal ini berdasarkan sudut pandang penerima dan topic pesan tertentu. Dainton menyarankan bahwa dalam teori ini kita harus bisa mengetahui prilaku orang lain sebagai subjek untuk bagaimana bisa mendekati pengaruh dalam pesan.
Sebagai tambahan pada sikap seseorang sebagai komponen komunikasi, dan mengingat posisi seseorang dalam topic pembicaraan, ada 3 hal yang perlu diperhatikan:
a.    Ruang penerimaan
Artinya, bahwa semua ide, pesan, simbol yang disampaikan dapat diterima.
b.    Ruang penolakan
Pesan yang disampaikan masuk kedalam ruang yang tak dapat diterima.
c.     Ruang non-komitmen
Semua ide, gagasan, pesan yang disampaikan sama sekali tidak mendapat pendapat atau respon. Bisa dikatakan netral.

Berikut adalah efek yang ditimbulkan dalam teori ini:
a.       Efek kontras
Ini terjadi jika pesan yang disampaikan masih bisa dilanjutkan. Artinya,  pesan tersebut harus disesuaikan berdasarkan posisi komunikan sebenarnya. Disini pesan masuk ke dalam ruang  penolakan.
b.      Efek asimilasi
Ini terjadi jika pesan yang diterima masuk ke dalam ruang penerimaan individu. Mereka meminimalisir perbedaan posisi pesandan posisi mereka dalam komunikasi.
c.       Efek boomerang
Terjadi jika orang yang kita tuju dengan pesan kita membuatnya berubah sikap dan berlawanan arah dari apa yang kita harapkan.
2.      Teori Elaboration Likelihood Model(ELM)
Teori ini menyatakan bahwa kesuksesan pengaruh pesan bergantung pada bagaimana dan seberapa dalam dan luas orang bisa memahami pesan yang kita sampaikan. Ada dua(2) jalan atau rute dalam teori ini, yaitu rute central dan peripheral.
a.       Rute Sentral
Pesan memiliki segudang informasi, argument yang rasional dan leluasa untuk membuat kesimpulan tertentu. Pesan ini didesain untuk perubahan jangka panjang, namun sayangnya tidak semua orang mampu menerima pesan. Pesan dapat dikatakan berhasil diterima jika:
1)        Target harus memiliki motivasi tinggi untuk memproses informasi yang diberikan
2)        Target harus memiliki kemampuan untuk memproses informasi secara kognitif.
b.    Rute Periperal
Pada rute ini melibatkan emosional penerima dan membutuhkan pemaknaan yang tinggi. Dampak perubahannya hanya berjangka pendek. Ada tiga tipe pesan peripheral, yakni: positif, negative, dan netral.

3)        Teori paradigma naratif
                        Teori ini mengukur seberapa efektif pengaruh yang bisa diberikan melalui narasi, artinya pengaruh melalui cerita dan hal-hal bersifat narasi deskripsi. Dalam teori ini ada 5 asumsu yang disodorkan oleh Fisher:
a.         Apa yang membuat orang lain unik dari pada ciptaan lainnya adalah kekuatan kita.
b.        Orang membutuhkan cara untuk menilai cerita mana yang bisa dipercaya dan tidak. Mereka menggunakan narasi yang rasional.
c.         Apa yang orang terima sebagai hal yang baik berdasarkan karakteristik mereka; budaya, sejarah, nilai, dan pengalaman.
d.        Rasionalitas ditentukan oleh naturalitas orang yang ada dan/menjadi sesuatu dalam narasi.

4)        Teori Disonansi Kognitif
                        Teori ini menyatakan bahwa pengaruh berlangsung dalam kehidupan personal orang. Ini terjadi jika terjadi ketidak-kongruenan antara realitas dan kepercayaan yang diamini.
                        Berikut ada 3 kemungkinan hubungan dalam teori ini antara keyakinan dan tingkah laku(kebiasaan):
a.       Irrelefansi
b.      Konsonan
c.       Disonansi



Stanley J. Baran, Mass Communication: Media Literacy and Culture, The McGraw Hill Companies: New York, 2010.





Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Momovdesk


0 komentar:

Post a Comment