Prinsip-prinsip komunikasi
Prinsip-prinsip
komunikasi[1]
![]() |
1. Komunikasi berangkat
dari diri sendiri
Bagaimana kita
melihat diri sendiri sangat membuat perbedaan besar terhadap bagaimana kita
berkomunikasi[2].Tidak
adanya inisiatif melibatkan diri untuk bisa membangun hubungan dengan orang
lain, tidak akan terjadi komunikasi. Jika hal ini etrjadi pada setiap orang
maka penyelenggaraan komunikasi hanyalah mitos. Juga, kita perlu melihat diri
sendiri yang kemudian bisa memproyeksi perilaku orang lain melalui pesan-pesan
dan makna.
2. Komunikasi melibatkan
orang lain
Tentu kita ingin dianggap aneh oleh publik
jika bicara sendiri, bukan? Kita tidak bisa melakukan percakapan hanya oleh
seorang diri saja. Kita melibatkan orang lain untuk bisa menyampaikan pesan
atau informasi. Oleh karena itu komunikasi dalam unsurnya ada komunikan(orang
yang kita beri pesan).
3. Komunikasi memiliki
isi dan dimensi hubungan
Jelasnya, dalam sebuah hubungan yang
melibatkan pesan, emosi, dan makna perlu mendapatkan perhatian berupa
penerjemahan terhadapnya. Inilah yang menentukan sebuah dinamika hubungan
tersebut. Kita memperhatikan isi pesan, karakter lawan bicara kita, notasi
setiap ucapan. Karena, setiap pesan akan mendapat respon yang berbeda karena
penerjemahan yang berbeda.
4. Komunikasi itu
rumit
Komunikasi lebih dari sekadar
pentransformasian pesan. Ia melibatkan banyak aspek kontekstual yang
berhujbungan erat dengan masing-masing peserta komunikasi. Bagaimana pesan itu
dibuat, komposisinya apa saja, bahasa apa yang digunakan, verbal atau non
verbal, dan aspek perilaku atau kebiasaan. Contohnya, jika kita ber=temu dengan
orang yang berbeda bahasa, katakanlah bahasa isyarat sedangkan kita tak
mengerti bahasa isyarat. Apakah terjadi komunikasi? Tentu tidak. Apakah terjadi
transformasi pesan dari dan kepada masing-masing orang? Tidak juga.
5. Kuantitas komunikasi
tidak mempengaruhi kualitas komunikasi
Mengapa
demikian? Kita bertolak pada sifat orang lain yang sangat banyak tidak ingin
mendengarkan secara baik. Ada pula yang enggan untuk mendengar perulangan
komunikasi dan informnasi yang itu-itu saja. Yang lebih parahnya ialah
kesalahpahaman. Hal yang bisa meningkatkan kualitas komunikasi adalah antisipasi
terhadap pesan yang akan disampaikan kepada lawan bicara kita.
6. Komunikasi tak
bisa dihindari, diubah, dan diulangi
Setiap saat kita melakukan
komunikasi, meskipun dengan hati sendiri. Kita berjumpa dengan teman, guru,
dosen dan akan berkomunikasi meskipun menggunakan bahasa non verbal sekalipun. Pesan
yang telah kita sampaikan kepada lawan bicara tak dapat kita perbaiki atau
dimodifikasi setelahnya diterima oleh komunikan.
7. Komunikasi tak
bisa diputar-balikkan
Mungkinkah
kalian pernah menghina orang lain tanpa sengaja? Dan kemudian meminta maaf
dengan mengatakan sejujurnya kalian tidak bermaksud demikian. Atau menganggap
hal itu hanya candaan semata. Atas dasar prinsip di atas, yakni komunikasi tak
bisa diubah, sebaiknya berhati-hatilah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Karena
kita tak bisa memutar waktu dan menghapus pesan kita tersebut.
8. Komunikasi tak
bisa diulangi
Sekiranya kita pernah melakukan
komunikasi dan hal pada suatu waktu, katakanlah siang tadi. Kita bercakap-cakap
dan meminum secangkir kopi sambil bergurau. Kemudian katkan untuk
mengulanginya. Memang benar bisa dilakukan, akan tetapi secara kontekstual
tidak akan pernah sama dengan pengalaman yang pertama. Hasilnya akan berbeda,
meskipun hampir sama. Karena kita tak dapat mengulangi pengalaman yang sama dan
komunikasi yang sama. Ingat, sejarah hanya terjadi satu kali saja.
[1] Judy C. Person, Human Communication, (New York: McGraw Hill, 2011), hlm. 14-23.
[2] Gerbner, G. Cultivation analysis: An overview Mass Communication and
Society,(1998), hlm. 75 -
77
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan
klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Momovdesk

0 komentar:
Post a Comment