Penting (mengapa) komunikasi antarbudaya?
Sudahkah kawan-kawan bertemu dengan orang
berlatar belakang berbeda? apapun dan siapapun itu. bisa sejawat, pertemuan di
perjalanan dengan orang asing, atau tetangga desamu yang bersuku dan ras
berbeda.
Perjumpaan dengan seseorang dengan latar belakang
berbeda baik itu sifat fisik atau sifat lainnya dapat kita katakan sebagai
hubungan antarbudaya dan antar pribadi. Mengapa demikian? Dalam pengertian
hubungan antarbudaya dan antar pribadi, artinya kita menjalin kontak atau
interaksi dengan seseorang yang jelas berbeda dari kita. Entah itu ras, agama,
budaya, su
ku, jenis kelamin. dari sekian perbedaan itu menunjukkan bahwa kita berhadapan dengan orang asing. ya, asing. dikatakan asing karena apa yang mereka miliki tidak kita miliki sebagai sebuah personalitas dan identitas.
Dalam praktik hubungan atau komunikasi
antarbudaya dan antar pribadi kita belajar banyak terhadap orang lain. Hal-hal
baru yang tidak kita miliki. Artinya, wawasan baru akan sedia bersarang dalam
wadah pengetahuan kita. Bagaimana bisa?
Sebelumnya, penulis telah berikan post terkait
komunikasi antarjbudaya melalui teori Manajemen kegelisahan/ketidakpastian
milik William B. Gudykunst. Berdasarkan apa yang dipaparkan oleh Gudykunst
dalam model komunikasi antarbudayanya. Kita mengenal tujuh penyebab hambatan
komunikasi antarbudaya. Berangkat dari semua penyebab itu, kita belajar
bagaimana memprediksi orang lain dan melalui niat memprediksi itulah kita
belajar hal karakteristik orang dengan latar belakang berbeda. Oleh sebab
itulah kita akan memahami orang lain dan mengerti bagaimana memperlakukan
mereka dengan menata setiap perilaku dan ucapan yang hendak diberikan kepada
lawan bicara.
Selain hal di atas, ada salah satu keuntungan
yang sulit didapatkan yakni akses terhadap kebutuhan baik informasi maupun
kehidupan sosial. Ketersediaan akses yang mudah bagi kita adalah disebabkan
karena kedekatan yang berhasil kita bangun. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa
kedekatan sangatlah sukar dibangun jika kita tidak termotivasi untuk
berhubungan dengan orang lain(asing). Motivasi ini sangatlah penting
peranannya, ini berkaitan bagaimana kita membuka diri kepada orang lain untuk
bisa saling memasuki (sila baca teori penetrasi sosial). Motivasi ini pula bisa
mengukuur seberapa supel kita terhadap orang asing atau orang yang baru kita
kenal. Selain itu pula, konsep diri juga berperan penting dalam hubungan atau
komunikasi antarbudaya. Dimana kita harus berusaha untuk meenyahkan
etnosentrisme dan stereotip. Hal ini bukan untuk merendahkan harga diri kita,
namun sebagai seseorang yang secara sadar membutuhkan jalinan terhadap orang
lain.
Oleh karena itu, Gudykunst juga menyajikan empat
level kesadaran yang bisa mengukur sejauh mana kita memahami kepentingan
berhubungan dengan orang berlatar belakang budaya yang berbeda.
Sebagai penutup, katakanalah jika kawan-kawan belajar
di tanah rantau. Akan dijumpai orang dengan berbagai macam karakter dan budaya,
serta agama. Jika kita tak punya motivasi, kemauan untuk berhubungan dengan
mereka, kita akan terkurung dalam sekat homogenitas semu yang membawa kita pada
ketidaktahuan akan orang lain. Kebuntuan dalam menghadapi orang lain. Terlebih
lagi, jika kawan-kawan menjalani proses wawancara kerja. Telah terjadi hubungan
antarbudaya dan antar pribadi. Bagaimana mungkin kita bisa menjalani wawancara
tersebut dengan lancer jika kita tak pernah lakukan praktik di kehidupan kita
sebelumnya? Selanjutnya, ini yang paling kerap tersulut konflik, kita perlu
memahami orang dengan latar belakang ras, agama, dan suku berbeda. Agar tidak lagi
terjadi kasus lampau seperti penistaan agama dan pelecehan terhadap suku atau
ras tertentu.
Jadi, hubuungan atau komunikasi antarbudaya dan
antar pribadi sangatlah menguntungkan kita dalam berbagai dinamika kehidupan
dalam kerangka sosial, budaya, politik, ekonomi, bahkan keagamaan.
Sekian, semoga bermanfaat. Salam komunikasi.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan
klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Momovdesk
0 komentar:
Post a Comment