Belajar pada teman-teman difabel
Saya
lupa, tepatnya tanggal dan bulan berapa mengenal seorang kawan
tunanetra itu. Tapi yang jelas, ketika pelaksanaan OSPEK di UIN Sunan
Kalijaga. Terbukalah pikiran liar saya untuk sekejap saja mencaci maki
diri ini. Jujur, saya merasa rendah kala itu.
Belum
pernah saya dapati seorang tunanetra mengenyam pendidikan hingga ke
perguruan tinggi. Maklum saja, saya berasal dari pelosok Way Kanan,
Provinsi Lampung. Perkenalan dengan difabel ini menunjukkan saya pada
jalan yang lebih lapang dan terbuka bagi saya untuk Belajar pada teman-teman difabel.
Mengenal lebih banyak kawan-kawan difabel. Tuli, daksa, dan tentunya
tunanetra. Mereka mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Baik
eksplisit maupun implisit. Semangat mereka untuk terus bisa menyetarakan
diri dengan kebanyakan orang sangat patut diapresiasi.
Teringat
sebuah penggalan kalimat dari seorang guru bangsa, Cak Nun. Tentang
mendayagunakan kemampuan diri. Ketika menyandingkan kalimat ini dengan
teman-teman difabel. Saya terasa ditampar berkali-kali. Begitu
merendahkan kemampuan diri dan banyak membuang percuma waktu. Itu yang
saya lakukan. Mungkin, banyak di luar sana orang-orang menganggap
difabel terbatas untuk mengakses berbagai kebutuhan hidup. Salah satunya
pendidikan. Tapi, di kampus putih ini, saya singkirkan stigma itu.
Mereka(difabel) membuktikan bahwa mampu bersaing dengan mahasiswa
non-difabel. Bahkan mampu berprestasi lebih.
![]() |
| Foto bersama difabel dan relawan PLD usai Seminar Fikih(Ramah) Difabel |
Saya
mengenal teman-teman difabel dari sebuah Pusat Layanan Difabel (PLD)
UIN Sunan Kalijaga. Tentunya, lembaga ini sangat amat berarti bagi
siapapun. Tempat ini, sebagai salah satu check point bagi mahasiswa
difabel. saya tak perlu menyatakan kelebihan atau kekurangan lembaga
ini. yang jelas, saya sangat berterimakasih.
Belajar pada teman-teman difabel,
saya dapatkan dari perjuangan keras mereka untuk sebuah kesetaraan dan
pengetahuan. Bukan sebagai peluang eksistensi. Mengenal mereka juga
mengajarkan saya untuk bisa lebih bersabar. Memahami diri dan orang
lain. Lebih bisa menghargai waktu, orang lain, diri sendiri dan juga
alam. Dan dari mereka juga, saya banyak mengenal orang-orang hebat dan
pantang menyerah.Merekalah Relawan. Maka, nikmat mana lagi yang manusia dustakan?
Ketika, tunanetra harus membaca menggunakan software. Mengapa kita malas membaca?
Ketika, tuli berkomunikasi melalui bahasa isyarat. Mengapa kerap kita berucap kasar dan mengumpat?
Maka, bukankah ini pengingkaran terhadap daya kuasa Tuhan yang luar biasa?
Ketika
ada seorang teman mengatakan, apa yang saya lakukan sebagai perbuatan
mulia. Saya menolaknya, karena ini semata-mata tanggungjawab sebagai
manusia. Toh, apa ruginya meminjamkan mata, mulut dan telinga?
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan
klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Momovdesk

0 komentar:
Post a Comment