-->

7 tradisi dalam teori komunikasi


1.       Tradisi sosio-psikologis
Di sini, komunikasi sebagai pengaruh interpersonal. Para pakar dalam tradisi ini meyakini bahwa kebenaran komunikasi dapat ditemukan dengan cara seksama dan observasi sistemik. Mereka melihat peenyebab dan efek hubungan yang diprediksi ketika perilaku komunikasi berhasil dan kapan itu gagal. Satu pertanyaan yang akan dijawab ketika jaringan penyebab tersebut ditemukan ialah: apa yang bisa aku lakukan untuk mengubahnya?
Oleh karenanya, dalam tradisi ini yang ditekankan ialah efek dari keberlangsungan atau proses komunikasi. Efek dari komunikasi. Siapakah yang mampu mempengaruhi? Siapa saja yang menjadi partisipan? Apa saja pesan yang disampaikan? Siapa sumber dari pesan tersebut? Dan siapa yang dituju? Bagaimana karakternya? Selain itu, pesan yang berasal dari sumber yang kedibiitasnya tinggi berpeluang mempengaruhi orang lain lebih besar dari pada sumber yang kredibilitasnya rendah. Coba anda bayangkan dan bandingkan, saat seorang nelayan dan petani memberikan anda saran bagaimana seharusnya anda berlayar. Tentu, nelayan yang akan anda percayai karena ia bekutat pada laut dan jelas tinggi kredibilitasnya dalam hal mengarungi lautan.

2.       Tradisi cybernetic
Di sini, komunikasi sebagai pemrosesan informasi. Satu pertanyaan yang harus dijawab dalam tradisi ini ialah bagaimana kita bisa mengeluaran celah dari sistem ini?
Merupakan seorang ilmuan peneliti sebuah perusahaan telepon, claude Shannon yang menggagas ide ini dengan mengembangkan ssebuah teori matematika dari transmisi sinyal. Tujuannya ialah mendapatkan kapasitas lini semaksimal mungkin dengan distrosi seminimal mungkin. Dia mengungkapkan bahwa tak begitu tertarik dengan makna sebuah psan dan efeknya pada pendengar. Teorinya berusaha memecahkan permasalah seecara teknis dari tingginya gangguang transfer suara. Ingat, suara ya. Jadi, yang Shannor tekankan dalam teorinya itu adalah sebanyak apa informasi terkirim. Jadi, apa celah dalam sistem transmisi pesan pada tradisi ini ya?
Noise. Benar, bagi Shannon, naoise itu musuh utama dari ssitem transmisi informasi karena memotong kapasitas pembawaan informasi kepada penerima yang bisa menyebabkan beberapa informasi hilang atau kabur/ tak jelas. Namun, satu hal yang perlu kita pertanyakan, kemanakan efek dari komunikasi itu? Mungkinkah manusiia tak memiliki sisi eemosional? Silakan anda pikirkan.

3.       Tradisi retorika
Dalam tradisi ini, komunikasi dianggap sebagai jalan penyampaian pesan kepada public dengan melibatkan nilai-nilai seni atau estetika. Ceritanya, Demosthenes dulu merasa kesal. Ia berlatih untuk melantangkan suaranya mlebihi lautan dengan cara menaruh kerikil di dalam mulutnya. Nah, hal itu ia praktikkan saat berbicara pada pertemuan di Atena. Lalu, beberapa ratus tahun kemudian, Cicero menggubahnya menjadi lebih berseni dan menerapkan sebuah sistem ntuk menemukan isu kunci dalam berbagai ‘legal case’. Pada tahun 1963, Martin Luther King, Jr., melatih pidatonya yang berjudul ‘I Have a Dream’ menggunakan cara yang lebih bergaya sebagai penggambaran visual, purwakanti, repetisi, dan metafora.
Intinya, dari ketiga orang yang telah penulis sebutkan di tas, bahkan ditambah satu lagi orator ulung yakni presiden perama Indonesia, Bung Karno. Berusaha selantang dan seindah mungkin ketika menyampaikan pesan di hadapan public. Agar mereka tahu apa yang disampaikan dan tentunya menarik perhatian. Akan tetapi, gagasan ini tidaklah melulu tentang lantass atau kerasnya suara. Menurut penulis, jelas dan berseni, beretika, berestetika sudah cukup bahkan mampu mempengaruhi pendengar. Silakan renungkan tentang seorang public relation (PR).

4.       Tradisi Semiotik
Komunikasi sebagai proses saling membagikan makna melalui simbol. Semiotik guys, semiotik. Secara harafiah kan berarti tanda atau studi tentang tanda-tanda. Banyak kita jumpai tanda-tanda yang ada dalam kehidupan kita. Baik yang melekat pada benda maupun manusia itu sendiri. Oya, ada satu lagi, tanda akan fenomena alam. Coba kita elaborasi satu per satu. Tanda panah luruus pada marka lalu lintas berarti jalan terus saja. Lalu, jika seseorang bersin dalam intensitas tinggi, bisa saja dia flu. Dan ketika burung terbang ke arah selatan artinya musim salju akan tiba. Pun dengan bahasa isyarat yang digunakan oleh teman-teman Tuli. Itu bisa diterjemahkan ke dalam bahasa yang digunakan orang-orang pada umumnya. Semua tanda memiliki makna dan bisa diterjemahkan. Bahkan, kata-kata merupakan simbol yang harus diterjemahkan. Misalnya, saya telah mengutip. Anda harus bertanya, apakah yang dikutip, seberapa banyak ia mengutip, benarkah tindakan mengutip itu.
Maka, dalam proses komunikasi. Kita juga kerap menggunakan tanda ini untuk menyampaikan pesan ketika enggan besuara. Silakan pikir dan renungkan.

5.       Tadisi socio-cultural

6.       Tradisi kritis

7.       Tradisi fenomenologi

Untuk lebih lanjutnya silakan baca buku rujukan di bawah ini.

References:        Em Griffin, Chapter 2 Mapping the Territory, A First Look at Communication Theory                  6th Ed., (New York: McGraw-Hill, 2006), Pp. 21-32.


Julia T. Wood, Interpersonal Communication: Everyday Encounters 6th Ed., (Boston: Wadsworth, 2010).





Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Momovdesk


0 komentar:

Post a Comment