Komunikasi Antarbudaya (Pengantar)
Kita biasanya merasa nyaman jika berhadapan dan berinteraksi dengan orang yang memiliki kesamaan dengan kita. Dalam selera, makna, pemikiran, keyakinan, bahkan budaya. Hal ini, kenyamanan dalam berhubungan dengan orang berlatar belakang sama, dapat kita katakan sebagai sebuah zona nyaman. Bagaimana jika kita tidak keluar dari itu? Bukankah sangat memungkinkan bagi setiap orang untuk berhadapan dengan orang yang berbeda latar belakang? Katakan, saat seseorang telah merasa nyaman dengan ruang sesamanya, ini akan menjadi sulit baginya untuk bisa berhubungan dengan orang yang memiliki perbedaan dengannya. Contohnya, seseorang yang biasa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ibunya dan tak pernah menyentuh bahasa lainnya. Ketika ia bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang berbeda, katakanlah bahasa. Di situ akan terjadi kejutan yang menyebabkan timbulnya hambatan dalam komunikasi pada kerangka bahasa.
William B. Hart II mengatakan bahwa
studi komunikasi antarbudaya bisa dikatakan sebagai yang menekankan efek kebudayaan terhadap komunikasi[1]. Dari yang dikatakan oleh Willian ini, ada hubungan antara komunikasi dan budaya. Pengertian ini yang kemudian membuat pemahaman terkait komunikasi dan budaya harus dimengerti secara bersama. Kita tidak bisa melepaskan salah satu saja. Andrean L. Rich dan Dennis M. Ogawa mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai sebuah komunikasi antara orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda[2]. Komunikasi ini terjadi oleh adanya pertemuan-pertemuan yang ada dalam ruang sosial. Dimana ruang tersebut memang memungkinkan terjadinya perbedaan kebudayaan dan terjalinnya komunikasi.
studi komunikasi antarbudaya bisa dikatakan sebagai yang menekankan efek kebudayaan terhadap komunikasi[1]. Dari yang dikatakan oleh Willian ini, ada hubungan antara komunikasi dan budaya. Pengertian ini yang kemudian membuat pemahaman terkait komunikasi dan budaya harus dimengerti secara bersama. Kita tidak bisa melepaskan salah satu saja. Andrean L. Rich dan Dennis M. Ogawa mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai sebuah komunikasi antara orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda[2]. Komunikasi ini terjadi oleh adanya pertemuan-pertemuan yang ada dalam ruang sosial. Dimana ruang tersebut memang memungkinkan terjadinya perbedaan kebudayaan dan terjalinnya komunikasi.
Selain itu, Guo-Ming Chen dan William J.Starosta mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya merupakan pertukaran sistem simbolik atau proses negosiasi[3]. Yang dimaksud oleh kedua tokoh ini, bahwa komunikasi yang terjadi antar orang berbeda kebudayaan, saling memberikan sesuatu dan membutuhkan interpretasi. Inilah yang disebut dengan pertukaran sistem simbolik. Dengan kemudian mempengaruhi sikap orang-orang yang terlibat di dalam pertukaran tersebut. Inilah yang bisa membatasi dan membimbing perilaku manusia di kemudian hari. Dalam pendefinisian komunikasi antarbudaya, kita tentu tidak akan lepas dari model yang dimiliki oleh komunikasi ini. Model komunikasi yang ada dapat membantu kita memetakan jalannya komunikasi. Selain itu juga, model dapat mempermudah bagi kita untuk menjelaskan fenomena yang terjadi.
Selanjutnya, dalam konteks kultural teori--teori komunikasi antarbudaya memiliki beberapa teori yaitu: Communication Accommodation Theory (Howard Giles), Face Negotiation Theory (Stella Ting Toomey), Spech Codes(Gerry Phillipsen), dan Anxiety/Uncertainty Management Theory (William B. Gudykunst).
Berikut model dasar komunikasi antar budaya[4]:
catatan kaki:
1. Alo Liliweri, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2004), hlm. 8.
2. Ibid., hlm. 10.
3. Ibid., hlm. 11.
4. Ibid., hlm. 33.
Terimakasih telah mampir. Semoga bermanfaat.
Jangan lupa baca buku.
Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan
klik disini untuk berlangganan gratis via email, Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Momovdesk
0 komentar:
Post a Comment